" Jeritan Hati Seorang Petani"

Tenang dan Damai...
Begitulah Suasana alam desamu.
Putihnya kabut menyelimuti bukitmu.
Engkau tinggal diantara indahnya bukit yang menyimpan berjuta kisah tentang indah dan pahitnya hidupmu.
Tak tahu aku menyebut dirimu apa,tapi yang jelas dimataku Engkau adalah seorang pejuang pangan yang sebenarna.

Putihnya Beras yang akan kumasak,nikmatnya nasi yang mereka makan,tak sebanding dengan kenyataan hidup yang Engkau rasakan.
Engkau tetaplah Engkau yang Sederhana,petani lugu yang tak bisa menikmati hasilmu.
Penghasilanmu tak sepadan dengan kelelahanmu.
Kehidupanmu tak senikmat nasimu.
Tapi,Engkau tetaplah Engkau,yang pasrah dengan segala keluguanmu.
Engkau bosan berteriak dan mengadu.
Nasipmu seperti ditentukan oleh para lindah darat dan tengkulak yang menghisap sari-sari keringatmu.
Aku begitu trenyuh saat mendengar ceritamu.
Aku begitu prihatin saat melihat kenyataan hidupmu.
Tapi,apalah dayaku,hanya ungkapan ketikan jariku yang mampu aku lakukan.
Engkau begitu pasrah,walaupun sebenarnya hatimu menjerit.
Bergelut lumpur dipagi buta,demi berjuta perut yang menantikan hasil panenmu.

Indahnya mentari pagi,merdunya emprit bernyanyi,Engkau setia mengayunkan Cangkutmu.
Matahari yang membakar kulitmu,tak mampu mengendurkan niatmu untk menaburkan benih panganmu.
Walaupun sebenarnya hidupmu pahit.

Aku tak bisa bayangkan andai Engkau tak mau lagi menanam.
Apa mereka-mereka akan sadar bahwa Engkau tak pantas untk dipermainkan.
Pantaslah dan tidak berlebihan bila aku menyebutmu pahlawan tanpa tanda jasa.

Duhai Engkau yang hidup mewah.
Hasil dari memeras keringatnya.
Teruslah menari diatas penderitaannya.
Tapi ku yakin hartamu takkan berkah.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "" Jeritan Hati Seorang Petani""

Post a Comment