Mulailah dari Diri Sendiri

Para sufi mengajarkan, “Man arafa nafsahu fa qad’ arafa Rabbahu,” yang artinya, “Siapa yang kenal dirinya, maka dia akan kenal Tuhannya.”

Biasanya, kalau sudah mengenal diri, kita akan tahu bahwa sebenarnya kita ini hanya makhluk lemah, tak berdaya, miskin, dan memiliki segala kekurangan lain di hadapan Sang Maha Segalanya, Allah S.W.T.

Menurut Al-Qur’an, sebelum dijadikan sebagai manusia, dulu kita adalah ruh yang hidup di sebuah alam antah-berantah, alam yang tidak terikat ruang dan waktu. Intinya, alam yang berbeda dengan alam kita kali ini. Alam ini disebut alam alastu. Ruh kita dan ruh seluruh Bani Adam bersatu untuk melakukan suatu perjanjian dengan Allah, dengan ikrar yang berbunyi kira-kira begini:
“Alastu bi rabbikum?” tanya Allah, yang artinya, “Mengakukah engkau, wahai ruh-ruh yang Aku ciptakan kalau Aku adalah Tuhanmu.”

Lalu, ruh kita dan ruh seluruh Bani Adam itu serempak menjawab, “Ba laa syahidna!” yang artinya, “Ya, kami mengakui Engkau sebagai Tuhan kami! (Qs Al-A’raf[7]:172)”

Allah pun menciptakan akal kita yang patuh dalam diri kita. Pada saat Allah menciptakan akal, Allah berfirman kepadanya, “Berdirilah!” Akal pun berdiri. Dan, Allah berkata, “Duduk!” Akal pun duduk. Lalu, Allah berkata, “Datanglah!” Akal pun datang.

Kemudian, Allah berfirman, “Demi Kebesaran dan Keagungan-Ku, AKu belum pernah menciptakan makhluk yang lebih hebat daripadamu atau yang lebih patuh dibandingkan dengan dirimu. Melalui kamu, Aku akan memulai, dan melalui kamu pula, Aku akan mengembalikan. Apa yang mendukungmu akan mendapatkan pahala, dan apa yang melawanmu akan mendapat hukuman.”

Apa iya kita semua pernah bercakap-cakap seperti itu? Kok tidak ingat, sih? Memang kita ini pelupa! Jangankan kejadian di dalam perut, kejadian saat kita berumur dua atau lima tahun saja kita sudah lupa. Tapi tenang saja karena ingatan itu bisa kita bangkitkan. Asal anda mau, anda bisa mengingat ulang apa yang pernah terjadi di waktu silam; juga kejadian di dalam perut itu.

Bagaimana caranya?

Kenali diri anda! Seperti yang sudah disebutkan tadi, ternyata kita punya ruh. Wah, baru tahu nih, kalau kita punya ruh. Jangan-jangan, banyak hal lain yang sebenarnya kita punya, hanya saja kita tidak tahu. Memang benar. Banyak sekali hal yang anda miliki sebagai manusia yang anda tidak tahu.

Setiap orang punya ruh. Inilah yang membedakan anda dengan benda-benda. Kalau anda tidak yakin punya ruh, berarti anda sedang meyakini diri anda persis batu atau rerumputan. Masa sih, anda tega menyamakan diri anda dengan bebatuan dan rerumputan. Jadi, percayalah, bahwa anda sebenarnya punya ruh. Tapi..., ruh itu apa, ya?

Ruh berkaitan erat dengan hidup. Melalui ruh, Allah menghidupkan manusia, menghidupkan akalnya, hatinya, nafsunya, dan juga badannya. Intinya, kalau tidak ada ruh, diri kita tidak akan hidup.

Nah, sekarang kita membicarakan akal. Apa sih, akal itu? Akal berasal dari bahasa Arab, ‘aql, yang artinya pengikat. Kalau anda punya kambing, anda harus mengikatnya agar ia menetap di kandang; tidur dan berkembang biak. Kalau anda lepaskan, kambing itu akan kabur berkeliaran atau dicuri orang. Dalam kehidupan ini, banyak hal yang bermanfaat di hadapan anda. Semuanya ada di luar diri anda. Meskipun tidak di luar, semua yang bermanfaat itu harus anda ikat dengan ‘aql. Yang diikat akal bukan hanya apa yang lewat dari kehidupan biasa, tapi juga semua pemberian Allah. Kenikmatan, kesadaran, ilham, ide bagus yang siap mengguncang dunia; semuanya diikat dengan akal.

Di samping ruh dan akal, manusia juga dibekali hati dan nafsu oleh Allah. Sifat nafsu itu selalu berlawanan dengan sifat-sifat akal.

Ciri-ciri akal dan nafsu itu seperti apa sih?

Salah satu ciri mereka adalah tidak terlihat oleh mata—tidak seperti badan atau tubuh kita. Sifat-sifat mereka hanya dapat diamati dari luar, dari gerak-gerik dan sikap badan. Gambaran mudahnya seperti ini, nih: Kita sudah mengenali pa itu ruh, akal, dan nafsu. Kini, kita baha ulang satu per satu, agar anda lebih mengenali ketiga milik anda yang selama ini anda lupakan...

Hmm... bagaimana ya, menjelaskan akal supaya anda tambah yakin?

Begini deh. Sifat-sifat akal, paling tidak terdiri dari: pikiran, pertimbangan, kesadaran, dan petunjuk. (Ingat: pikiran, pertimbangan, kesadaran, dan petunjuk!) Agar mudah menjelaskannya, perhatikan beberapa pertanyaan berikut ini:

Kalau lima ditambah lima sama dengan sepuluh, maka lima dikurangi sepuluh sama dengan berapa, hayo?
Misalkan, anda diberikan pilihan oleh orangtua saat lulus SMA; Anda boleh meneruskan kuliah, tapi biaya ditanggung sendiri; atau anda bisa bekerja dulu selama dua tahun, mengumpulkan uang, lalu anda bisa meneruskan pendidikan; atau anda boleh menganggur, tapi orangtua anda tidak akan memberikan anda uang; pilihan terakhir, anda tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi, bekerja saja. Toh, banyak sarjana yang menganggur.
Coba bayangkan kalau sejak anda lahir matahari tidak pernah terbenam alias terus-menerus menyinari bumi. Kira-kira... anda akan tahu malam, tidak? Dan, anda akan tahu apa itu siang?
Anda ada di antara teman-teman yang sedang menghisap ganja, padahal anda tidak pernah dan tidak akan mau menghisap ganja. Tapi, kalau anda meninggalkan mereka, anda tidak enak hati, karena mereka teman-teman dekat. Menurut anda, apa yang akan anda lakukan?

Oke, kalau empat pertanyan itu sudah anda jawab, mari kita simak penjelasan berikut. Untuk menjawab pertanyaan pertama, anda berpikir. Untuk menjawab pertanyaan kedua, anda memakai bagian akal yang bernama: pertimbangan. Anda mengukur untung-rugi dan baik-buruknya mengambil jawaban atas suatu persoalan. Itulah kerja pertimbangan. Untuk menjawab pertanyaan yang ketiga, anda menyadar-nyadarkan apa yang selama ini kurang anda sadari. Anda memakai kesadaran. Untuk menjawab pertanyaan terakhir, anda minta petunjuk.

Jadi, siapa yang berpikir, siapa yang punya pertimbangan, siapa yang menyadar-nyadarkan, siapa yang dimintai petunjuk? Jawabnya: akal.

Sekarang, jawab juga pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

Anda yang lahir di Solo, kenapa tidak lahir di Medan?
Anda rajin bekerja tapi tidak ada waktu untuk bersantai atau anda rajin bersantai tapi tidak ada waktu untuk bekerja, lebih baik yang mana?
Kenapa anda harus memakai baju?
Waktu kelas tiga SMA, anda masuk lima besar. Lalu, ada universitas yang menawarkan PMDK ke sekolah anda. Pihak sekolah menawarkan anda dan empat teman anda yang berprestasi. Kemungkinan besar anda diterima, asal anda tidak ikut PMDK ke universitas lain. Tapi, jurusan yang mereka tawarkan kurang anda minati. Jadi, kalau anda ambil, anda akan kuliah di jurusan yang kurang anda minati itu. Tapi kalau anda tolak, anda kehilangan satu kesempatan bagus. Jadi, apa yang akan anda putuskan?

Selanjutnya, dalam diri anda itu, ada satu hal lagi. Ia disebut hati.

Dalam bahasa Arab, hati disebut qalb. Dibaca qolbu, bukan kalbu. Karena kalbu artinya anjing. Hati-hati lho, jangan sampai tertukar. Kalau tertukar, bisa gawat dong. Nanti anda meyakini bahwa dalam diri anda ada anjingnya (Guk! Guk! Guk!). Jadi, istilah “Manajemen Qalbu,” yang sering kita dengar itu, dalam bahasa kita punya arti “mengurus hati.” Hati urusannya sama dengan perasaan. Jadi, “Manajemen Qalbu” juga dapat diartikan “mengurus perasaan.” Sebagian persoalan dalam diri kita tidak bisa terjawab oleh pikiran, pertimbangan, kesadaran, dan juga penunjuk akal. Ada sesuatu yang terlalu rumit diungkapkan oleh kata-kata. Ia hanya terjawab oleh perasaan alias hati. Urusan cinta, misalnya.

Coba kamu tanyakan perasaan cinta seseorang di antara teman-teman anda. Bisa tidak dia menjelaskan semua yang dirasakannya menggunakan pikiran? Atau memakai pertimbangan? Atau memakai kesadaran? Akal juga paling-paling hanya menjelaskan dan memberi petunjuk sebagian kecil saja. Yang paling pintar di antara teman-teman anda juga sering tidak berkutik di mata cinta. Manusia menjawab masalah cinta memakai cara lain, yaitu perasaan. Kalau ketemu orang yang punya kesan daleeemm banget di hati anda, anda nervous alias deg-degan. Inilah mungkin yang menjadi cara anda menjelaskan perasaan cinta anda itu. Kalau disuruh menjelaskan kenapa sih jatuh cinta sama si Maemunah itu, pasti tidak ada jawaban yang logis, yang ada hanya jawaban emosional. Ujung-ujungnya, anda hanya bisa diam. Padahal, di antara teman-teman, anda paling vokal dan suka sekali berdebat. Kalau kata Guru Rumi, di mata cinta, kita itu ibarat keledai dalam lumpur, bisanya hanya meringkik, tapi tidak bisa jalan ke mana-mana. Maksudnya, kita tidak bisa utuh menjelaskan semua soal cinta.


Anda Mau Jadi Pengikut Siapa?
Sekarang saatnya menjelaskan sifat-sifat akal dan nafsu. Setelah itu, anda yang menentukan mau jadi pengikut siapa.

Sebaiknya, anda merenung terlebih dulu. Cari waktu kosong dan tempat yang nyaman untuk menyendiri. Lalu, anda tanyakan dengan jujur tentang semua yang ada dalam diri anda kepada diri anda sendiri. Banyak kejadian yang anda alami, dan anda akan mendengar suara-suara dlama diri anda yang mengomentari kejadian-kejadian itu. Pada saat itu, anda juga pasti akan menemukan suara-suara yang berlawanan. Yang satu mengajak anda begini, yang lain sebaliknya. Nah, itulah akal dan nafsu anda yang sedang bertengkar.

Anda sendiri—entah bagaimana caranya—pasti dapat membedakannya. Dan, terserah kepada anda mau memihak siapa, akal atau nafsu. Misalnya begini, anda tidak tahu suara seperti ini datangnya dari mana. Dalam benak anda ujug-ujug terdengar kata-kata, “sudah deh, tidak usah belajar, anda kan bodoh. Orang bodoh kan belajar kayak apa juga tetap saja bodoh.” Nah lho, hati-hati deh, pokoknya kalau anda sudah menemukan bisikan seperti itu dalam diri anda, bahaya! Sangat bahaya! Itu sebenarnya bisikkan nafsu.
Pokoknya, yang namanya nafsu itu sudah jelas perannya sebagai “pembisik ke arah yang jelek.”

Anda tidak akan punya kebaikan kalau kalah sama nafsu. Padahal, anda juga pasti sadar bahwa salah satu letak kebodohan itu ada pada kemalasan. Tidak masuk akal dong, kalau orang yang sedang rajin, tapi tetap bodoh. Betul tidak? Manusia selalu berubah. Saat ini, misalkan, banyak orang bilang, “Kamu tuh bego banget, sih!” It’s ok! Seribu orang bisa menuduh begitu. Tapi, kita harus membuktikan kepada mereka kalau mereka slaah. Nah, saat kita ingin membuktikan itulah, nafsu datang menghalangi dengan mengucapkan kata-kata bahwa anda akan tetap bodoh.

Bandingkan deh, kata-kata nafsu dengan kata-kata teman-teman anda tadi. Teman-teman anda bilang anda bego. Nafsu juga membisikkan kalau anda tidak akan bisa pintar. Mereka sepakat. Lalu, apakah anda lebih percaya pada nafsu dan teman-teman anda atau diri anda sendiri? Ingat, walaupun nafsu itu bagian dari diri anda, tapi ia justru berpihak kepada sesuatu di luar diri anda. Benar, kan? Buktinya, nafsu anda sepakat dengan orang-orang yang menganggap anda bego. Ternyata, nafsu kita itu pengkhianat. Ia berpihak kepada yang lain untuk membuat semangat kita patah. Di sini anda tertantang untuk membuktikan kalau sebenarnya yang bodoh itu nafsu dan teman-teman anda, bukan anda.

Untungny, ada sesuatu yang lain dalam diri kita yang membisikkan, “Manusia itu bisa berubah ke arah yang lebih baik. Semuanya, tanpa terkecuali.” Nah tuh, begitu bijaknya. Itulah bisikan akal. Akal adalah kebijaksanaan yang ada dalam diri anda. Semakin anda sadar, suara akal anda akan lebih terdengar ketimbang suara nafsu. Anda akan bisa berpikiryang benar, anda punya pertimbangan sebelum mengambil suatu keputusan, anda akan bisa menyadari banyak hal, dan anda ditunjukkan ke jalan yang lurus. Kalau menurut Imam Ja’far as-Shadiq, manusia itu tidak punya alasan yang benar untuk tidak percaya dengan akalnya, untuk tidak percaya dengan pikiran, pertimbangan, kesadaran, dan petunjuknya. Dan, kita dengan sendirinya akan menjadi orang cerdas dan bijak kalau kita percaya kepada akal. Sekali lagi, percaya deh, sama akal. Dengarkanlah bisikan-bisikan bijak dalam diri anda dan jangan dengarkan nafsu anda! Lalu, yakinlah bahwa anda memang seperti yang dibisiki oleh akal itu. Kalau kita rajin dan yakin bahwa kita ini bukan orang bodoh—seperti yang dibisiki akal—pastilah kita berubah menjadi lebih cerdas dan lebih baik.

Oke, sebenarnya masih banyak ciri-ciri pertarungan dalam diri anda. Tapi, tidak akan ada manfaatnya disebutkan semua kalau anda tidak benar-benar merenungkannya. Renungkan dahulu! Seperti yang disarankan tadi, cari tempat dan waktu yang tepat untuk menyendiri.

Kalau sudah merenung dengan serius, jawablah pertanyaan-pertanyaan ini. Termasuk orang yang manakah aku:
Orang yang sangat percaya dan mengikuti nafsu?
Orang yang percaya dan mengikuti akal?
Orang yang kadang percaya, dan mengikuti nafsu, kadang percaya dan mengikuti akal?
Sudah dijawab? Oke. Ikuti terus, ya. Ada bagian-bagian yang lebih seru dalam artikel-artikel selanjutnya. Jangan sampai terlewat.

Mengubah Diri
Dalam diri kita, ada yang harus diubah. Pegang dulu deh, kata-kata barusan: ada yang harus diubah!

Apanya yang harus diubah? Nah, dari pertanyaan inilah kita memulai. Penampilan? Make up? Potongan rambut? Cat kuku? Atau... apanya yang diubah? Ternyata bukan. Yang perlu kita ubah bukan itu semua. Tubuh dan aksesorinya, tidak ada satu pun yang perlu kita ubah. Dan, kita harusnya tetap percaya diri dengan apapun pemberian-Nya.

Tapi, mungkin anda protes. “Lho, pada saat-saat tertentu kita juga perlu mengubah hal-hal tertentu pada tubuh kita, seperti rambut keriting menjadi lurus; hidung pesek menjadi mancung; atau wajah yang tadinya kurang menarik menjadi lebih menrik. Biar kita lebih pede gitu lho! Penampilan kan, segalanya.”

Hmm... belum tentu juga. Mengubah itu semua tidak terlalu penting. Sebab, ada hal lain yang jauh lebih penting untuk diubah. Penampilan memang perlu, tapi bukan segalanya.

Anda mungkin pernah memiliki teman yang sok gaul. Misalnya, dia orang biasa, tidak terlalu kaya, tapi suka ge-eran. Gaya hidupnya hedon walaupun penghasilannya biasa-biasa saja. Dia sangat peduli dengan penilaian orang lain. Dia tidak bisa lepas diri dari yang namanya penilaian. “Hidup adalah penilaian,” mungkin begitulah kalau dia disuruh mendefinisikan arti hidup. Kalau lagi ngobrol, dia memperhatikan lawan bicaranya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia lalu membandingkan, apakah penampilannya lebih baik atau lebih jelek dari lawan bicaranya itu. Kalau dia pikir dia lebih baik, dia bangga setengah mati. Dan, dia benar-benar merasa sudah menemukan siapa dirinya. Tapi, kalau dia merasa si lawan itu ternyata lebih modis, dia mencari cara buat membela diri, termasuk memakai cara merendahkan penampilan lawan bicaranya. Padahal, di balik itu, dia stres alias depresi. Dia mengutuki diri dan dia tidak tahu lagi siapa dirinya.

Sekarang anda bayangkan kalau anda jadi teman ngobrolnya. Bosan kan, dibanding-bandingkan terus-menerus seperti itu? Apalagi kalau anda direndahkan ketika kebetulan dia tidak lebih modis daripada anda. Nah, kalau anda saja bosan, ada berapa puluh orang lagi sih menurut anda yang sudah dan akan dibikin bosan oleh dia? Banyak bukan? Padahal, dia tidak bisa hidup tanpa penilaian yang bagus, lho. Dan, yang didapat malah penilaian yang sebaliknya, penilaian buruk.

Jadi, menurut anda, dia masih akan dapat hidup tidak, sih?

Kalau arti hidup hanya bernapas sih, dia juga masih bisa. Tapi, hidup kan tidak cuma itu. Hidup juga dapat berarti berhubungan baik dengan orang lain, mendapat penghargaan yang tulus dan layak dari orang lain—bukan penghargaan yang dibuat-buat—dan yang penting, hidup adalah menghidupi orang lain. Artinya, bermanfaat buat orang lain, gitu lho.

Semua pemberian Allah tentang tubuh dan penampilan luar kita memang harus selalu kita syukuri apa adanya. Salah satu wjud bersyukur itu dengan cara merawatnya. Tapi jelas, merawatnya itu artinya bukan terikat sedemikian rupa, hingga seolah-olah tidak ada kerjaan lain selain merawat penampilan dan mengumpulkan pujian orang. Yang sedang-sedang saja lah!

Seburuk dan sejelek apa pun penampilan luar anda di mata orang lain, di mata Allah, beda lagi penilaiannya. Allah tidak menilai tubuh, tetapi hati nurani manusia. Bahkan, Allah kadang menguji manusia dengan kaki yang pincang, bibir yang sumbing, tubuh yang mungkin menurut anda tidak ideal, dan sebagainya. Allah memberikan itu semua semata-mata untuk menguji. Satu, menguji kesabaran orang yang diberi ujian itu. Dua, menguji kepedulian orang lain yang tidak terkena ujian itu. Ingat: kesabaran dan kepedulian!

Allah menurunkan semua ujian itu untuk membantu kita melakukan perubahan. Bukan perubahan fisik, melainkan perubahan jiwa kita menuju kesempurnaan hakiki di sisi-Nya. Bukankah kesabaran dan kepedulian adalah bagian dari perubahan jiwa kita?

Perubahan ini adalah perubahan dari sifat kita yang jelek menuju sifat yang terpuji yang diridhai Allah S.W.T. Mengubah itu maksudnya mengubah kesan “terserah aku” dalam diri kita masing-masing. Salah satu contohnya, kita tidak boleh egois! Kita juga tidak boleh bersikap sombong atau sok. Ya sok tahu, sok pintar, sok kaya, sok keren, atau sok baik. Kalau pintar beneran, tahu beneran, kaya beneran, atau baik beneran sih, bagus. Tapi, kalau semua itu tidak ada dalam diri kita, alias hanya ngaku-ngaku, jadi tidak lucu bukan?

Yang membuat kita bersikap serba sok itu adalah nafsu kita, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Ego kita. Nah, anda sudah tahu betapa jeleknya nafsu. Lalu, apa yang harus anda lakukan? Ada sebagian kita yang mengutuk-ngutuk setan, tapi tetap melakukan perbuatan-perbuatan setan. Ada yang tidak suka dengan kemalasan, tapi tetap saja malas. Ada yang tidak suka dengan kemarahan, tapi dia marah dengan sikapnya sendiri yang suka marah. Bagaimana tuh? Itu artinya, kejelekan nafsu bergantung pada bagaimana anda memperlakukannya. Kalau anda sudah tahu bahwa nafsu itu jelek, tapi anda tetap diam; ya sama saja, nggak ngaruh.

Inilah. Membenci atau tidak membenci itu satu soal, tapi mengikuti atau tidak mengikuti itu soal lain. Untuk apa membenci nafsu kalau kita tetap mengikuti dia. Yang penting kan kita tidak mengikuti, itu saja. Membenci boleh, tidak juga boleh. Tapi yang jelas, kita tidak perlu terlalu menyalahkannya. Tugas kita yang paling penting cuma harus rajin berbenah dan mengubah diri.

Sekarang, mari kita ikuti sebuah petualangan di negeri perubahan.


Sang Hawa Nafsu
Diri kita punya unsur yang dinamakan hawa nafsu. Tingkat yang paling rendah dari diri.

Apa sajakah sifat-sifatnya?

Hawa nafsu adalah salah satu bagian dari diri anda yang dihuni sifat-sifat negatif seperti egoisme, kerakusan, syahwat, dan iri dengki. Ia adalah diri kita yang selalu ingin menguasai dan mengatur hidup sedemikian rupa sehingga sulit bagi anda untuk keluar darinya. Para guru sufi dulu menggambarkan hawa nafsu sebagai anjing atau babi. Diri kita benar-benar dikuasai oleh nafsu birahi dan nafsu menyerang (amarah). Selain menyeruduk laksana banteng, kita juga paling suka marah-marah, bengis, sadis, dan ganas, seperti anjing atau serigala yang galak. Sulit sekali mengatasi manusia yang nafsunya sudah menjadi karakater. Kenapa sulit, ya? Karena, kalau disalahkan, dia tidak mau mengakui walaupun sudah tidak diragukan lagi kalau dia memang jelas-jelas bersalah.

Sekarang mari kita ukur diri sendiri, sehebat apa pengaruh hawa nafsu dalam karakter anda. Indikasinya? Kita ambil indikasi yang mudah saja. Begini, kalau diri kita selalu berbuat salah, tetapi tidak pernah mengaku salah, maka tidak diragukan lagi, berarti hawa nafsu anda berpengaruh dominan. (Bagaimana hasil pengukurannya?)

Kok bisa ya, hawa nafsu menguasai kita?

Awalnya begini. Semua lahir dari dalam diri anda. Tepatnya, mungkin dari dalam isi otak. Otak anda diisi hanya dengan pikiran-pikiran yang penuh dengan keinginan dan syahwat. Mirip otak binatang, mungkin ya? Yang dipikirkan cuma makan, tidur, ingin ini, ingin itu, dan keinginan lainnya. Mirip sekali dengan binatang. Setiap isi otak kita itu melahirkan perbuatan. Apa yang anda inginkan dalam pikiran tentu saja ingin dipenuhi dengan perbuatan anda. Maka, lahirlah perbuatan yang berdasarkan keinginan. Perbuatan yang terus-menerus dilakukan akan melahirkan kebiasaan. Lahirlah kebiasaan yang berdasarkan keinginan. Kebiasaan melahirkan karakater. Lahirlah karakter anda yang berdasarkan keinginan, karakter kebinatangan. Hawa nafsu pun, yang tadinya tertidur dalam diri anda, kini lahir menjadi karakter yang menguasai anda. Nah, lho!

Binatang yang tidak mau apa yang ada dalam genggaman tangannya terlepas. Ia akan menjadi semakin buas kalau apa yang ia pikir sebagai miliknya diambil orang—padahal sesuatu itu tidak selalu harus ia yang menjadi pemiliknya. Hewan buas tidak bisa berbagi. Seekor hewan pemburu akan selalu mempertahankan daerah kekuasaan dan hasil perburuannya dari hewan lain, jadi boro-boro mau berbagi kepada sesama. Anda yang terkena virus hawa nafsu pun seperti ini. Anda takut apa yang anda miliki lepas dari tangan anda. Anda selalu ingin berkuasa atas segalanya. Kehewanan dalam diri anda akan terus membuat anda takut kehilangan apa yang sudah anda kuasai, dan mencari lagi kuasa-kuasa lain yang belum didapatkan.

Karena dorongan hawa nafsu untuk berukuasa itulah, manusia biasanya takut dengan kemiskinan dan kefakiran. Hawa nafsu terus menghantui diri anda akan bahaya kemiskinan. Jadilah kita sebagai makhluk yang sangat malu menjadi orang miskin atau malu bergaul dengan orang miskin. Kita menjadi sangat gengsian. Misalnya, kita takut kalah gengsi kalau tidak memakai handphone yang mahal atau takut kelihatan jelek kalau tidak memakai pakaian yang bermerek atau made in Italy. Padahal kita tahu kan, semua itu harus dibeli? Padahal semua itu tidak ada artinya. Ujung-ujungnya, untuk membeli itu semua, anda terpaksa melakukan korupsi, atau mencari uang dengan jalan yang diharamkan agama. Masya Allah! Yang anda tahu, pokoknya anda harus membeli barang tersebut.

Ada yang lebih parah. Hanya karena gengsi, banyak di antara teman-teman kita yang melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan agama dan norma masyarakat hanya untuk memenuhi kebutuhan yang serba mewah itu.

Walhasil, demi gengsi yang diajarkan hawa nafsu, kita melakukan banyak kejahatan, dan menjadi penyebab kejahatan yang dilakukan orang lain. Sekali lagi, hawa nafsu akan mendorong kita untuk berbuat apa saja demi gengsi.

Gengsi dai hawa nafsu juga mengajarkan kita untuk menyembunyikan apa yang di mata manusia dianggap keburukan dan kehinaan. Padahal di mata Allah, hal itu merupakan kebaikan dan tindakan terpuji. Kita yang terkena virus hawa nafsu persis bagaikan seorang wanita tua renta, si busuk keriput yang bersembunyi di balik pakaian yang mempesona. Sang hawa nafsu di dalam diri kita selalu mengajarkan agar memandang indah suatu perbuatan yang dilakukan oleh diri sendiri walaupun perbuatan itu kecil dan tidak berarti apa-apa. Karena mendengarkan saran hawa nafsu, anda jadi sangat senang dipuji. Anda menjadi takabur alias sombong. Perbuatan yang kecil dan sedikit saja, misalnya membelikan makanan untuk teman yang sedang sakit, dianggap sebagai kebaikan yang menyebabkan si sakit menjadi sembuh. “Dia sembuh lantaran gue tuh yang ngebeliin air,” katanya. Menyebalkan bukan? Bahkan, kasarnya, dia menceritakan perbuatan itu berulang-ulang hingga “tujuh turunan.” Di masa tuanya nanti, dia sering menceritakan bagaimana si fulan sembuh dari sakitnya setelah dia membelikan makanan untuknya.

Sebaliknya, sebesar apa pun kebaikan yang orang lain berikan, secepat kilat dia campakkan. Dia menganggap orang lain tidak pernah berbuat baik kepadanya. Di masa tua nanti, dia akan sering menceritakan bagaimana dia berjuang mendapatkan kekayaan tanpa sedikit pun dibantu orang lain. Dia ingin orang lain tahu kalau dia seorang pejuang yang gigih. Dia mendaftar kebaikan-kebaikan dirinya yang dilakukan kepada orang lain dan membeberkannya di setiap kesempatan dengan penuh kebanggaan dan rasa ujub. Sebaliknya, dia enggan mendaftar kebaikan orang lain kepada dia yang mungkin jauh lebih banyak dari kebaikan yang diberikannya kepada orang lain. Dia pun tidak lupa mendaftar seluruh keburukan yang pernah dilakukan orang lain dengan penuh dendam kesumat. Suatu saat, semua sifat itu dapat menguasai kita sedemikian rupa.

Sekali lagi, sulit buat mengubah orang yang mengidap penyakit dari si Aku Hewan in. Maka dari itu, kita perlu menjaga isi otak kita, menjaga perbuatan kita, dan mengganti kebiasaan buruk kita sehingga karakter kita menjadi bail. Sebenarnya, virus dari hawa nafsu dapat dicegah. Tapi kalau sudah menjadi karakter, hampir tidak bisa diobati.

Oh ya, ada kabar sangat penting. Begini, katanya, karakter yang menempel di setiap orang itu lama-lama dapat menjadi takdirnya, lho. Berarti, karakter buruk yang banyak terkena virus hawa nafsu akan membawa takdir yang buruk? Begitulah!

Maka dari itu, mulailah dengan mengubah pikiran anda. Siap berubah?

Menginsyafi Diri
Pada tingkat kedua, kita sudah mulai mengalami perubahan. Insyaf, artinya kita menyadari bahwa diri kita ini ternyata lebih banyak salahnya daripada benarnya. Pada tingkat ini, kita baru saja memahami penyakit diri, seperti sombong, ujub, rakus, iri, dengki, dan sebagainya. Di sini, kita sudah agak sadar kalau kita sebenarnya ternyata mempunyai banyak kesalahan. Tetapi, kita masih terlalu lemah untuk segera berubah. Dengan kata lain, kita baru sampai pada tingkat mengaku punya salah, tapi belum bisa mengubah kesalahan yang diakui itu menjadi kebaikan. Seperti apa, ya? Terbayang tidak?

Hidup kadang diliputi rasa penyesalan, tapi masih diperlukan ornag lain sebagai pemberi petunjuk. Kalau anda kebetulan punya teman yang kecanduan narkoba, dan dia ingin sekali sembuh, dia ingin sekali bertaubat, itu artinya teman anda itu sedang mau insyaf, alias ada di posisi terpengaruh oleh keinsyafan dalam dirinya. Coba saja tanyakan, yang dia jalani selama ini benar atau salah. Dia pasti mengaku bahwa selama ini dia salah. Tapi, dia tidak berdaya untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Dia sudah terjebak sedemikian rupa oleh narkoba. Dia insyaf; dia terpengaruh oleh keinsyafannya. Anda yang berada di tingkat terkena pengaruh insyaf juga akan seperti itu. Banyak perbuatan buruk yang anda lakukan. Anda mengakui kalau itu perbuatan buruk, tapi anda tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mengubahnya. Jadi, bagaimana cara mengubahnya kalau begitu?

Dibilang mudah, tidak juga. Dibilang susah, juga tidak. Ya, mengubah penyakit kita memang gampang-gampang susah, harus ada bimbingan orang lain. Orang yang paling anda percai. Misalnya orangtua (tapi biasanya, yang kecanduan begini sudah tidak akur dan jarang ketemu dengan orangtua), atau ustadz yang anda sangat percayai ilmu dan akhlaqnya, juga sahabat atau teman dekat anda. Yang jelas, kalau dibilang mudah sih tidak, tapi bisa. Jadi, yakin deh, bisa.

Pada keadaan anda yang diselimuti keinsyafan seperti ini, ada perang yang terjadi dalam diri anda, yaitu antara sisi hewan anda (hawa nafsu) dan keinginan anda untuk terus berbenah. Peperangan ini sebenarnya terus terjadi sepanjang hidup anda. Sebab, setiap manusia sebenarnya tidak mungkin mengusir pengaruh hawa nafsunya. Dia hanya sanggup menyesali melalui keinsyafannya dan menyimpan atau mengendalikan. Sesekali, hawa nafsu muncul dan kembali mengajak kepada keburukan.

Hati Nurani
Hati nurani juga ada di dalam diri anda. Yaitu anda yang punya keinginan kua untuk melakukan hal-hal yang benar seperti sedekah, menolong sesama, merasakan nikmatnya ibadah, setia kepada ajaran-ajaran agama, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, meninggalkan perbuatan yang merugikan, atau mencegah diri dari perbuatan tercela

Secara mental, anda lebih dewasa dan mampu membuktikan kalau anda bisa memperbaiki diri dari kesalahan. Bukan berarti anda tidak pernah punya salah. Anda bahkan sama seperti yang lainnya—yang pengaruh hawa nafsunya ada—tapi anda lebih bisa menguasai dan bisa berbenah. Bahkan, tanpa bergantung pada bantuan orang lain. Asyik, kan!

Setiap kali punya salah, anda sadar, dan anda cepat-cepat meninggalkan kesalahan anda, lalu mengganti kesalahan-kesalahan itu dengan kebaikan-kebaikan yang lebih banyak jumlahnya. Pokoknya, anda menjadi orang yang bijak.

Misalnya, anda sopan dan bersikap terhormat karena sanggup menahan keinginan-keinginan syahwat. Tidak hanya dari yang haram, tapi juga dari yang syubhat. Orang lain juga insya Allah menghargai kemampuan anda menahan diri. Atau, anda yang dijadikan tempat untuk teman-teman anda mencurahkan perasaannya. Mereka tahu anda paling bisa menahan diri untuk tidak berkomentar. Anda sanggup bertahan saat mendengarkan masalah mereka. Dalam salah satu hadist, dalam kitab Nashaihul ‘Ibad, disebutkan begini, “Man la wara’a lahu la zulfa lahu,” yang artinya, “Orang yang tidak bisa menahan diri, tidak akan punya harga diri.” Kita bisa mengambil pengertian sebaliknya: kalau bisa menahan diri, kita akan punya harga diri, di mata teman, saudara, guru, atau dosen.

Kalau sudah sangat dipengaruhi oleh hati nurani, anda akan selalu memenangkan peperangan dengan keinginan-keinginan anda yang rendah. Tapi, jangan terlalu bangga dulu. Yang namanya perang, ada menang, pasti ada kalahnya. Iya, kan?

Sesekali, hawa nafsu anda bisa muncul dan—seperti biasanya—mengajak kepada kejahatan. Maulana Rumi pernah berkisah: pada suatu hari, seorang pemburu ular naga pergi ke pegunungan untuk menangkap seekor ular naga. Sang pemburu sudah mencari di sekitar pegunungan, tapi belum ketemu juga. Hingga ujung-ujungnya, dia menemukan jasad ular naga besar yang membeku di dalam sebuah gua, di atas puncak yang sangat tinggi. Sang Pemburu lalu membawa jasad ular naga itu ke tengah-tengah kota Baghdad. Di sana, dia mengaku telah membunuhnya dengan satu tangan. Kemudian, dia memamerkan ular naga itu di tepi sungai. Ratusan orang datang melihatnya. Kehangatan matahari Baghdad perlahan-lahan menghangatkan tubuh ular naga itu. Dan, ia mulai bergerak bangun dari tidurnya. Wah, seram!

Orang-orang menjerit, lalu menyerbu ular naga itu. Sebagian mati terbunuh. Pemburu ular naga itu ketakutan, dia ingin lari. Tapi, ular naga itu malah memakannya dengan sekali telan.

Nah, nah, nah. Kata Maulana Rumi, hawa nafsu adalah ular naga itu. Ia liar dan sangat kejam. Walaupun kelihatanny mati, sebenarnya ia tidak mati, hanya membeku.

Sedangkan Sang Pemburu adalah hati nurani anda. Pada banyak kesempatan, kelihatannya ia dapat menaklukkan hawa nafsu. Tapi, ia tidak menyadari satu hal, yaitu bahwa hawa nafsu sewaktu-waktu bisa bangkit kembali. Seharusnya, hati nurani tidak membiarkan hawa nafsu bebas. Karena kalau bebas, hawa nafsu akan memakan dirinya sendiri dan jadi bencana untuk orang lain.

Maulana Rumi, sambil menyindir, mengajarkan begini, “Jangan mendekatkannya pada sinar matahari Baghdad karena ia akan terbangun.”

Dalam Al-Qur’an pun, ada ungkapan yang agak-agak mirip nadanya dengan ungkapan Maulana Rumi di atas, yaitu “Walaa taqrabuuzzinaa”, yang artinya “Janganlah kamu mendekati zina.”

Ungkapan ini ditujukan untuk hati nurani, supaya ia sadar dan tidak lagi membiarkan diri mendekati perzinaan. Sebab, kalau sudah dekat, misalnya, sedang berduaan dengan lawan jenis di tempat yang sepi, hawa nafsu pasti akan berkata, “Sudah, tunggu apa lagi, ayo lakukan!” Atau, kalau anda sudah bergaul dengan pemakai ganja, hawa nafsu akan selalu menggoda anda agar ikut memakai.

Sekali lagi, ingatkan hati nurani, agar selalu waspada. Jangan terbuai karena menang perang melawan hawa nafsu. Sebab, ternyata hawa nafsu tidak bisa mati, sepanjang anda msih hidup di dunia. Ia hanya membeku.

Maksud Maulana Rumi dengan “jangan mendekatkannya pada sinar matahari Baghdad” adalah jangan sampai anda membuka kesempatan untuk melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang merugikan anda dunia-akhirat. Maulana Rumi seolah berpesan, “Jangan berpacaran!” atau “Jangan bergaul dengan para pemakai!”

Bukankah Bang Napi juga sering bilang, “Kejahatan terjadi bukan cuma karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!” Nah, lho...

Mensyukuri Nikmat Allah
Sekarang kita sampai pada pembahasan mensyukuri nikmat. Pada level ini, anda sudah berada pada situasi damai dan aman. Kalau dihubungkan dengan kisah di atas, mensyukuri nikmat adalah level saat hati nurani berhasil melumpuhkan hawa nafsu. Benar-benar berhasil. Ia sudah diam lagi dalam kebekuan yang abadi. Maksudnya, memang sudah tidak bisa apa-apa lagi. Konsisten, istilahnya. Ego dalam diri sudah mulai pergi, dan pintu untuk lebih dekat kepada Allah mulai terbuka lebar.


Manusia yang sudah dominan dikuasai rasa syukur adalah dia yang senantiasa diliputi keyakinan yang teguh, iman yang kokoh, dan senantiasa dalam keadaan zikir dan memuji Allah S.W.T.

Bagi anda yang sudah sampai pada pengaruh rasa syukur, tidak akan ada bedanya antara kesulitan dan kemudahan, atau antara kerugian dan keuntungan. Kalau orang lain memperlakukan anda secara buruk, anda justru bersyukur. Kalau orang lain memuji anda, anda sudah sanggup mengembalikan semua pujian itu hanya bagi Allah semata. Anda memandang semuanya baik. Pokoknya, bagi anda semuanya baik. Anda juga akan selalu puas dengan nasib. Bahkan, lebih dari itu, anda justru senang dengan berbagai kesulitan dan cobaan hidup. Semua orang pasti mencari bahagia dan menghindari derita. Tetapi anda sebaliknya, menghadapi derita dengan keikhlasan dan rasa syukur.

Alkisah, suatu hari, Sultan Mahmud berbagi mentimun dengan Ayaz, pelayannya yang setia. Ayaz sangat suka separuh mentimun itu. Tetapi, saat Sultan memakannya, ternyata terasa sangat pahit. Sultan pun langsung memuntahkannya.

“Bagaimana kamu bisa menikmati makanan yang pahit seperti ini?” tanya Sultan heran. “Rasanya seperti racun!” tambahnya.

“Sultan yang saya cintai,” jawab Ayaz, “saya menghormati dan mencintai Tuan sehingga apa pun yang engkau berikan, akan terasa manis jadinya.”

Begitulah. Ketika anda sudah berhadil menggapai pengaruh rasa syukur dalam diri anda, anda akan selalu menerima dan bersyukur atas semua pemberian Allah, bahkan yang pahit sekalipun.

Meraih Ihsan
Wah, ini sih perubahan yang sudah sangat tinggi. Pada tingkat ini, Rasulullah Saw. juga menyebutnya sebagai manusia yang “beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya” atau paling tidak, dia yang “sadar kalau ibadah dan tingkah lakunya sedang dilihat oleh Allah Swt. Kalau hati nurani masih besar kemungkinannya kalah melawan hawa nasu, maka ihsan tidak mungkin dikalahkan lagi.


Kisah berikut ini adalah perumpamaan pergumulan hebat yang dilakukan ketiga jenis pergolakan dalam diri anda. Hawa nafsu berperan sebagai seorang pencuri yang menyelinap masuk ke dalam rumah anda di malam hari, hati nurani berusaha menjadi “jagoan” dalam diri anda yang melawannya, dan ihsan adalah satu-satunya sifat dalam diri yang dapat mengusirnya. Dalam kisah singkat itu, hawa nafsu bermaksud menciri setiap barang berharga di dalam rumah jiwa anda. Hati nurani akan datang untuk bertarung layaknya Ksatria Baja Hitam. Tetapi hawa nafsu—yang kali ini berperan sebagai pencuri yang pintar—akan memantulkan setiap kekuatan yang dikerahkan hati nurani. Kalau hati nurani punya pistol untuk melawannya, hawa nafsu juga punya pistol untuk melumpuhkannya. Kalau hati nurani mengeluarkan pisau, hawa nafsu juga punya pisau yang lebih tajam dan lebih panjang. Pokoknya, kalau cuma hati nurarni yang melawan pencuri, ia tidak akan sanggup melawannya. Ksatria Baja Hitam dalam diri anda akan kalah telak. Lalu, bagaimana jadinya? Apa ada cara lain yang lebih efektif agar pencuri lari dari kamar anda? Hahaha... gampang! Yang paling ditakuti pencuri bukan pistol atau pisau. Pencuri tidak suka tempat yang terang penuh cahaya. Salah satu solusinya adalah... menyalakan lampu kamar! Pasti dia lari!

Jangan ketawa dulu! Lampu yang kita nyalakan lampu yang mana dulu? Maksudnya adalah lampu jiwa anda. Lampu jiwa anda adalah cahaya zikrullah yang terpancar dari pengaruh ihsan. Apa itu zikrullah?

Zikrullah itu ingat sama Allah. Ihsan selalu menyuruh kita untuk menghiasi hati dengan zikrullah, yang dengannya anda bahkan tidak akan sanggup untuk berbuat maksiat. Ya, zikrullah tidak hanya melarang anda maksiat, tapi juga membuat anda tidak sanggup berbuat maksiat. Dengan zikrullah, pencuri alias si hawa nafsu, pengecut dalam jiwa anda itu, akan lari keluar menjauhi cahaya.

Lebih jauh lagi, pada tingkat ini, anda akan dapat benar-benar menyadari ungkapan, “Tidak ada Tuhan selain Allah”, yang maknanya anda tidak hanya mencintai Allah, tapi anda bahkan “bersatu” dengan-Nya. Ah, ngaco, mungkin begitu pikir anda. Masa bersatu sama Allah?

Maksudnya begini. Apa pun yang anda pandang, akan terasa seperti memandang Allah. Anda akan sadar sepenuhnya bahwa hanya Allah yang ada, sedangkan alam ini hanya bayangan-Nya. Manakah menurut anda yang benar-benar nyata: bayangan atau kenyataannya?

Masih belum paham? Ya sudah, tidak usah dipaksakan. Yang jelas, bagi yang sudah terkena virus ihsan, semua yang ada di alam ini dapat membuat ingat siapa yang membuatnya. Saat melihat matahari, anda ingat Allah. Melihat tanaman, melihat laut, ingat Allah. Melihat apa dan siapa saja, selalu ingat Allah.

Saat berbuat salah, anda juga menyesal dan ingat Allah, lalu bertaubat dan menutupi dosa-dosa anda dengan berbuat kebaikan. Sudah tidak ada yang lain dalam ingatan anda, kecuali Allah. Jadi artinya, ingatan anda sudah menyatu dengan Allah. Tidak ada yang lain. Sekali lagi: yang menyatu itu ingatan anda dengan Allah. Ngerti, kan?

Melangkahlah Perlahan Bersama yang Lebih Mengerti
Untuk mencapai kesempurnaan sejati sebagai manusia yang diliputi oleh kearifan ihsan—sebut saja namanya manusia ihsan—kita harus melangkahkan kaki-kaki kehidupan kita bersama orang yang lebih mengerti.

Kenapa harus melangkah bersama yang lebih mengerti, ya?

Perjalanan manusia mencapai kebaikan, kesucian, dan kesempurnaan diri bukan perjalanan yang gampang, melainkan perjalanan yang sangat sulit. Ibarat anda orang Yogyakarta yang ingin pergi ke Surabaya. Sampe nggak kira-kira anda pergi ke Surabaya, kalau pada kenyataannya anda: Satu, belum pernah tahu dimanakah Surabaya; Dua, anda tahu Surabaya, tapi tidak ada kendaraan—kecuali kalau anda sanggup berjalan kaki dari Yogyakarta ke Surabaya. Tiga, anda tahu Surabaya, anda juga punya mobil, tapi anda belum bisa nyetir sendiri. Repot, kan? Empat, anda tahu Surabaya, bisa nyetir sendiri, tapi belum punya SIM. Lima, anda tahu Surabaya, punya mobil sendiri, bisa nyetir, punya SIM, tapi tidak punya cukup keberanian untuk menghadapi perampok di tengah jalan. Oke, sampai disini, lima poin saja dulu. Renungkan lagi deh, untuk sampai Jakarta, butuh tidak ya orang lain yang lebih paham daripada kita?

Selama hidup, anda bisa saja terlalu asyik dengan keegoisan diri sendiri, seperti ujub, ria, atau bahkan kesombongan anda yang tersembunyikan dan tidak anda sadari. Anda juga bisa terjebak dalam kesalahan pemahaman tentang suasana perasaan. Isi perasaan yang datangnya dari setan, anda anggap dari Allah.

Ada seseorang yang mengaku sering mendapat bisikan seperti ini, “Hari ini shalat kamu sudah sempurna, Allah sudah mengampuni, dan Allah pun sudah menjamin karena semalam kamu menangis, bertaubat kepada-Nya. Jadi, cukupkan saja ibadahmu sampai disini. Allah sudah memberikan jaminan surga untukmu!”

Nah, hati-hati deh, kalau anda mendapat bisikan seperti ini. Bisikan semacam ini lembut dan halus sekali. Anda sering tidak sadar. Bisikan seperti ini, menurut Imam Al-Ghazali, disebut istidraj, yaitu bisikan setan yang sangat lembut, halus, dan menipu. Setan itu apa, sih? Setan itu artinya yang mengajak anda menutup diri dari perubahan ke arah yang baik.

Pokoknya, carilah orang yang lebih mengerti, agar anda tidak termakan oleh bisikan seperti itu.


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Mulailah dari Diri Sendiri"

Post a Comment